Test.
31 May, 2012
30 April, 2012
(mungkin) resensi 2:37:00 AM
Buku Jostein Gaarder sejauh yang saya baca, selalu berisi dongeng yang sarat filsafat.
Karyanya yang satu ini, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng (The Ringmaster's Daughter), pun membicarakan hal seputar Tuhan, kehidupan, dan ide mengenai penciptaan dan cara kerja Tuhan terhadap peradaban manusia. Lagi-lagi buku dia membawa saya pada pemikiran yang sama ketika saya membaca Dunia Sophie (Sophie's World) dan Cecilia dan Malaikat Ariel (Through the Looking Glass, Darkly) yang juga membahas hal serupa.
Karena saya suka filosofi, saya suka buku-bukunya. Dari tiga karyanya, saya mendapat sebuah pandangan filosofis yang komprehensif. Filsafat dan 'pengajaran' yang dia sampaikan di bukunya cenderung mengambil 'setting' kristen. Melalui dongeng yang dipaparkan menarik, imajinatif, dan sarat intrik, Gaarder menyuguhkan perbandingan ajaran ketuhanan menurut Kristen yang dipersandingkan lalu 'dibabat' dengan pemikiran dan kebijakan manusia yang berpusat dari Wisdom of the Greek, ajaran filsafat Yunani.
Sinopsis singkatnya dipaparkan secara jelas dalam penggalan berikut:
Seandainya ada sebuah mesin imajinasi di suatu tempat, yang dikelola hanya oleh seseorang, katakanlah dia seorang pria. Sambil duduk tenang di tempatnya, dia tak henti menenun banyak alur cerita yang sangat brilian untuk segala jenis novel dan lakon. Mari kita andaikan--meski tampak aneh dan amat sangat sulit dipercaya--bahwa dia tidak punya ambisi untuk menerbitkan karya-karyanya atas namanya sendiri. Bagaimanapun, ini sangat masuk akal. Barangkali dia benci memasang namanya pada begitu banyak puisi atau cerita pendek, barangkali karena yang bersangkutan memiliki keinginan ganjil untuk hidup secara incognito; meski demikian, dia tidak dapat berhenti memintal cerita dan fabel karena tidak sanggup mematikan mesin imajinasinya. Kita andaikan selama bertahun-tahun dia membangun jaringan yang sangat luas dengan industri perbukuan, baik di negaranya sendiri maupun di luar negeri. Dia mengenal ratusan penulis, banyak dari mereka biasa mengalami periode pendek yang lazim disebut kebuntuan ide yang sering dialami para penulis. Bayangkan semua dugaan ini, bayangkan juga bahwa di antara kelompok-kelompok penulis ini, ada individu-individu tertentu yang bersedia meminta bantuanya. Sekarang bayangkan bahwa pabrik imajinasi ini mulai menjual produk-produk setengah jadi kepada penulis yang frustrasi. Paham maksudku? (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, hlm. 277-278)
Di bab terakhir Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, Gaarder menyimpulkan isi novelnya:
Sejak zaman dulu, para tokoh gereja menyatakan hal yang serupa tentang kitab-kitab Injil. Jelas bahwa kitab-kitab itu datang dari berbagai sumber, tetapi para teolog memercayai bahwa ada sosok meta-penulis yang memandu dan mengarahkan seluruh tulisan itu. Ini bukan berarti mereka menganggap Tuhan secara lisan mengilhami setiap kalimat dalam Injil. Tuhan tidak bekerja seperti itu. Namun, Dia memberikan semacam petunjuk kepada setiap penulis. Dia memberikan suatu gagasan kepada setiap penulis.Saya memendam simpati penuh hormat yang amat besar pada cara Tuhan bekerja dengan manusia. Dia juga menuntut semacam imbalan, meminta banyak hal mulai dari pujian hingga penebusan dosa. Namun Dia bertindak lebih jauh. Dia mengancam menghancurkan mereka yang tidak percaya kepadaNya, dan manusia modern menolak untuk hidup di bawah kondisi seperti itu. Sekarang Tuhan sudah mati; orang-orang yang frustrasi dan konspirasi merekalah yang membunuhNya.
Ada rasa pahit terhadap ide penciptaan dan karya Tuhan dalam hidup manusia, yang tercium dari aroma tulisannya. Itu menurut saya. Objektif mungkin, atau filsafat memang ilmu yang seperti cermin yang sekadar memantulkan realita tak kasat mata, yang hadir di dalam jiwa dan isi kepala.
Beberapa paparan dalam fiksi karya Gaarder mengusik pemahaman saya akan Tuhan, penciptaan, dan hidup. Menganggapnya bertentangan dengan kepercayaan saya, saya pun berkesimpulan bahwa apa yang saya pelajari dari Gaarder merupakan informasi yang hampir separuhnya berasal dari kepala dan raga, ketimbang dari hati dan jiwa.
Bagaimanapun juga, saya mencintai caranya menciptakan dunia lewat tulisan. Imajinatif, inspiratif, menggugah!
Labels:
books
20 March, 2012
This is what touched my heart, many times :') 12:51:00 AM
Hello! In this post, I just wanna share what's in my heart these days. You know, for some points in my life, I have come to a point of having no interest in anything at all.
Until I saw this picture:
This little kid from Nusa Tenggara Timur touches my heart. Bocah ingusan, polos sekali. Knowing so little about life and... I mean, you can't resist but to care. Right?
I don't know about you, but when I saw their pictures, lari-lari ke sekolah dengan seragam kuning dan sepatu satu-satunya... Bisa menulis, dapet pendidikan yang layak, bahkan minum susu setiap hari untuk kebutuhan gizi mereka... :')
I found myself praying to God. For them.
Aku denger cerita tentang anak-anak ini sebelum Sekolah Tunas Mulia dibangun di Dusun Koko, di Kabupaten Manggarai, NTT empat tahun lalu.
Dusun Koko bener-bener sebuah Dusun. Beneran dusun. Primitif. Akses untuk air bersih masih nggak ada, jalanan juga belum dibangun. Mobil gak bisa masuk, dan orang harus jalan untuk ke Dusun Koko. Di dusun ini banyak anak yang gak sekolah, bahkan yang sekolah pun hanya disuruh angkat-angkat kayu bakar buat gurunya! Mereka gak biasa mandi, gizinya buruk, akibatnya anak-anaknya pada penyakitan. Kulitnya pada luka-luka gak keurus. :((
Nggak cuma itu. Di Dusun Koko dulu belum ada MCK yang proper. Mereka gak pernah belajar buang air besar dan kecil di tempatnya. Di mana mereka bisa lakukan, mereka lakukan aja. Aku diceritain sama Ibu Guru Ruth Made, seorang guru di Sekolah Tunas Mulia, kalau anak-anak Dusun Koko pernah pup di kelas. Langsung aja gitu, tanpa basa basi, pluk. Gitu.
Duh. :(
Kebayang gak sih kelas udah baunya kayak gimana? Masa-masa pertama itu bener-bener menantang buat Ibu Guru ini. Makanya, sekolah yang dibuat gak cuma ngajarin pendidikan secara akademis, tapi lebih dari itu, belajar etika, manner, bahkan pup dan pipis di mana. :') Aku salut sama guru-guru ini di Dusun Koko, Bu Ruth Made dan Ibu Aci.
Makanya dibangun MCK dan balai kesehatan juga di sana. Gak cuma itu, mereka juga punya perpustakaan Taman Bacaan Anak Rajawali Cilik (kamu bisa like facebook-nya di SINI). Kalau kamu punya buku-buku anak-anak, kamu bisa kirim buku-buku juga ke mereka. :)
Aku juga denger banyak banget cerita tentang perubahan anak-anak itu, mereka yang tinggal di dusun mana tau soal profesi pilot, dokter, presiden, dan gitu-gitu. Ada satu anak namanya Joni. Tau cita-citanya apa? Jadi perampok. :(( Liat, gimana pendidikan yang minim bikin impian anak-anak ini pun minim. Yang mereka liat lah yang akan ditiru mereka. Apalagi di Dusun yang banyak okultisme, miskin, dan minim pendidikan. Kebayang gak gimana masa depan anak-anak ini nantinya kalau gak kita bantu? :((
Tapi tau gak? Setelah sekolah dan diajarin soal cita-cita, waaaaaaaah, Joni berubah. Dia bilang mau jadi polisi! Wihiiiiw! Rasanya pengen nyamper ke sana dan pelukin satu-satu dan ajarin semuaaa kebaikan yang aku tau. :')
Aku yang di sini gak bisa bantu ngajar langsung dan berinteraksi langsung sama mereka akan dengan senang hatiiii bantu lewat dana, buku-buku, dan pokoknya spread the word to everybody I know.
I don't know about you, but I can't help but help. :)
If you care and wanna do the same, you can show your care by following their twitter account: @heart4NTT and like their facebook here: http://facebook.com/heart4NTT
At last, I just wanna share how I believe they will be the next Indonesia's great leaders come from NTT. Look. Can you see how they will grow, too? :')
![]() |
| Anak-anak Dusun Koko sama Ibu Guru Aci |
Let's support them!
:)
16 March, 2012
Akhirnya aku bikin akun di soundcloud. Hihihi.
Ayo follow! XD
Dan ini untuk pertama kalinya baca puisi direkam. AHAHAHA. Norak.
Kamu ada soundcloud juga? :D
13 March, 2012
Jadi Penyanyi 3:06:00 AM
So, gue lagi ngaplod suara di soundcloud.com/missviona, lalu ngumbar-ngumbar ke Twitter dengan sejuta pede di dalam dada, seorang follower ngasih link ke soundcloud band indie Afternoon Talk. Dan... kyaaaa...
LAGU-LAGUNYA LUCU-LUCU BANGET!
Seumur-umur gue pengen bisa bikin lagu storytelling kayak gitu. Macam lagu Taylor Swift yang ini:
..tapi gak bisa. Maka itu, tekad gue taon ini adalah berusaha bikin lagu yang bercerita. Karena genre gue adalah absurditas, maka gue akan bernyanyi lagu-lagu absurd. HORE.
Gak terdengar seperti berita bagus, tapi... let's see. HAHAHA.
Anyway, Februari lalu akhirnya gue untuk pertama kalinya ikutan les vokal, wohooo! (THANK YOU, PS. ERLYN WIDJAYA for paying my vocal lesson fee! I can never thank you enough.)
Ya ampun. Lama gak nyanyi, suara gue jelek sekali. .__. Disuru nyari nada do sama mi sama sol, gue kaga bisa dong. Hasil nebak-nebak pake sense yang dah lama gak ditoyor. HAHAHA. Disuruh baca not angka yang udah lama gak gue lakuin juga. :\
But! I'm improving! HEHEHEHE. Sama Ibu Irene (guru vokal) nada tinggi gue di-push sampe tojosan terakhir. "Masih sampe kok, saya yakin masih sampe kok," gitu. Ya emang sampe sih, sampe capek. Tapi seruuuu! Hehehe. Impian gue terwujud: les vokal.
Oke, impian kurang tinggi. Mestinya jadi penyanyi. Bikin album. Ketinggian gak sih? Gak, 'kan? :b
Ohya, balik ke Afternoon Talk tadi, gue pun akhirnya ngecek ke blog Sofia (vokalis), dan terjatuh di postingan yang ini, dan... gue suka banget sama gaya nge-blognya yang jujur, konyol, apalagi pengalaman-pengalaman neka (jadi guru TK) nya. Semuanya ngingetin gue sama:
- impian gue untuk jadi penyanyi
- pekerjaan pertama gue sebagai guru TK
- gaya ngeblog ngasal 3 taon lalu
Hihi. Pagi buta gini, gue pun mulei ngeblog tanpa mikirin EYD dan blablabla. Masih agak kaku untuk macam-macam kayak dulu, tapi...
Boleh lah ya...
:))













